29 Tahun BSN: Berkontribusi Membangun Negeri Melalui Infrastruktur Mutu Nasional

Avatar photo
Plt Kepala BSN, Y Kristianto Widiwardono
Plt Kepala BSN, Y Kristianto Widiwardono

SURYAKEPRI.CO.ID – Ketika masyarakat mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk, atau saat melakukan transaksi di pasar menggunakan timbangan, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: jaminan bahwa produk yang dikonsumsi atau alat yang digunakan tersebut aman, bermutu, akurat dan dapat dipercaya.

Di balik jaminan tersebut, bekerja sebuah sistem yang disebut Infrastruktur Mutu, yang terdiri dari standardisasi, akreditasi, metrologi, dan kegiatan penilaian kesesuaian seperti pengujian, inspeksi dan sertifikasi.

Negara yang memiliki Infrastruktur Mutu yang handal, akan menghasilkan produk yang dipercaya dalam perdagangan domestik maupun internasional. Hal ini juga selaras dengan peningkatan perlindungan masyarakat karena Infrastruktur Mutu ikut memastikan produk yang beredar memenuhi aspek keamanan, keselamatan, kesehatan, serta perlindungan terhadap lingkungan. Badan Standardisasi Nasional (BSN) merupakan instansi pemerintah yang memiliki peran sentral dalam pengembangan Infrastruktur Mutu di Indonesia.

Penilaian terhadap kehandalan Infrastruktur Mutu suatu negara dilakukan melalui Global Quality Infrastructure Index (GQII), yang dikembangkan oleh Mesopartner dengan dukungan German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development serta Physikalisch-Technische Bundesanstalt. Indeks ini menilai tingkat pengembangan infrastruktur mutu di 185 negara berdasarkan tiga pilar utama, yaitu standardisasi, akreditasi, dan metrologi.

BACA JUGA:  Berkendara Sambil Merokok Siap-siap Ditilang, Kena Denda Rp750 Ribu

Infrastruktur Mutu Nasional yang dikembangkan oleh BSN bersama dengan berbagai pemangku kepentingan kini semakin diakui dunia. Dalam publikasi yang dikeluarkan GQII 2025, Indonesia menempati peringkat ke-23 dunia dari 185 negara. Posisi ini naik empat peringkat dibandingkan publikasi sebelumnya dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peringkat tertinggi di kawasan ASEAN.

Capaian ini mencerminkan kolaborasi yang terus berjalan antara BSN dengan instansi pemerintah lainnya, produsen, konsumen, pakar serta pemangku kepentingan lainnya. Tahun ini, BSN menandai 29 tahun perjalanannya sejak berdiri pada 26 Maret 1997, dengan terus berkontribusi terhadap kemajuan bangsa melalui penguatan Infrastruktur Mutu Nasional.

Selama hampir tiga dekade, BSN berperan dalam mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI), memperkuat sistem akreditasi, serta mendukung keandalan pengukuran nasional. Upaya tersebut menjadi fondasi penting untuk memastikan produk Indonesia memiliki kualitas yang dapat dipercaya oleh masyarakat dan pasar internasional.

Plt Kepala BSN, Y Kristianto Widiwardono, mengatakan bahwa mutu produk kini menjadi faktor penentu dalam persaingan ekonomi global.

“Di tengah arus globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, mutu produk tidak lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi syarat utama untuk bertahan dan berdaya saing,” ujar Kristianto di Kantor BSN, Jakarta, Kamis (26/3/2026).

BACA JUGA:  Cadangan BBM RI Cukup 28 Hari, Pemerintah Minta Masyarakat Tak Ricuh

Ia menjelaskan, Infrastruktur Mutu Nasional terdiri dari tiga komponen utama yang saling terkait, yaitu standardisasi, akreditasi, dan metrologi. Ketiganya membentuk sistem yang memastikan produk yang beredar telah memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan keselamatan.

“Jika dianalogikan seperti jalan tol yang memperlancar distribusi barang, maka Infrastruktur Mutu Nasional adalah ‘jalan tol kepercayaan’ dalam dunia perdagangan,” katanya.

Penilaian terhadap kekuatan sistem mutu suatu negara dilakukan melalui GQII, menunjukkan capaian Indonesia yang relatif kuat pada ketiga pilar tersebut. Pilar standardisasi berada di peringkat ke-38 dunia, metrologi di peringkat ke-32 dunia, dan akreditasi menempati posisi ke-4 dunia.

Capaian pada pilar akreditasi bahkan menjadi salah satu yang paling menonjol. Indonesia menempati posisi pertama di Asia dan berada di peringkat ke-4 dunia setelah Amerika Serikat, Jerman, dan Meksiko. Posisi ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-19 dunia. Hal ini juga mencerminkan semakin kuatnya sistem penilaian kesesuaian di Indonesia, yang mencakup laboratorium pengujian, lembaga inspeksi, dan lembaga sertifikasi yang telah terakreditasi.

Infrastruktur Mutu Nasional yang semakin kuat tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga oleh pelaku usaha kecil. Melalui penerapan SNI yang dibuktikan melalui pengujian serta sertifikasi oleh lembaga penilaian kesesuaian yang terakreditasi, produk yang dihasilkan pelaku usaha memperoleh jaminan mutu yang diakui pasar.

BACA JUGA:  Scam Kian Canggih, Komdigi Wajibkan Operator Bangun Sistem Anti-Penipuan

Penerapan SNI terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, sebanyak 1.099 jenis produk atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI. Bahkan, 204 jenis produk ber-SNI di antaranya telah berhasil menembus pasar ekspor, menunjukkan bahwa standar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan di dalam negeri, tetapi juga menjadi kunci akses ke pasar global.

Sepanjang tahun 2025, sebanyak 19 Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaan BSN juga berhasil menembus pasar internasional setelah menerapkan SNI pada produknya.

“Posisi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti bahwa Infrastruktur Mutu Nasional yang diakui secara global akan membawa dampak bagi peningkatan daya saing bagi pelaku usaha,” pungkas Kristianto.

BSN akan terus bersinergi dalam upaya meningkatkan daya saing industri, membuka akses pasar yang lebih luas, serta memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat sebagai konsumen.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *