Dua saudara kembar di Amerika Serikat, Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter, didakwa setelah nekat menghapus sekitar 96 database berisi data pemerintah federal hanya beberapa menit setelah mereka dipecat dari perusahaan tempat mereka bekerja.
Kasus ini menjadi sorotan karena keduanya bekerja di Opexus, perusahaan kontraktor berbasis di Washington DC yang menangani data lebih dari 45 lembaga pemerintah Amerika Serikat.
Ironisnya, kedua saudara tersebut ternyata memiliki rekam jejak kejahatan siber sebelum direkrut. Pada 2015, mereka pernah mengaku bersalah dalam kasus peretasan situs web, pencurian data kartu kredit, hingga penjualan informasi pribadi di darknet.
Balas Dendam Setelah Dipecat
Masalah memuncak pada 18 Februari 2025 ketika keduanya dipanggil dalam rapat daring melalui Microsoft Teams dan langsung diberhentikan dari perusahaan.
Namun perusahaan diduga lalai karena hanya menonaktifkan akses milik Sohaib, sementara akun Muneeb masih aktif.
Hanya beberapa menit setelah rapat berakhir, Muneeb langsung mengakses server pemerintah yang dikelola perusahaan dan menjalankan perintah penghapusan database.
Salah satu database yang dihapus disebut milik Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dengan perintah:
\texttt{DROP\ DATABASE\ dhsproddb}
Dalam waktu sekitar satu jam, sekitar 96 database yang berisi dokumen investigasi federal dan data Freedom of Information Act dilaporkan lenyap.
Tak hanya itu, Muneeb juga mengunduh ribuan file milik Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) dan mengambil informasi pajak federal milik ratusan warga.
Gunakan AI untuk Hapus Jejak
Menurut dokumen pengadilan, setelah menghapus database, Muneeb sempat meminta bantuan chatbot AI untuk mencari cara menghapus log sistem dan jejak aktivitas di server Windows.
Ia juga disebut membuat berbagai script Python untuk menguji ribuan kombinasi username dan password yang sebelumnya berhasil ia kumpulkan dari jaringan internal perusahaan.
Salah satu script bahkan digunakan untuk membobol akun hotel dan layanan penerbangan demi memanfaatkan poin perjalanan milik korban.
Sempat Bahas Pemerasan
Dalam percakapan yang terungkap di pengadilan, kedua saudara itu juga berdiskusi mengenai penghancuran data dan kemungkinan memeras perusahaan.
Sohaib bahkan menyarankan penggunaan “kill script” untuk memperparah kerusakan sistem. Namun Muneeb disebut menolak ide pemerasan karena khawatir menjadi bukti keterlibatan mereka.
Setelah aksi tersebut, keduanya bahkan memasang ulang sistem operasi laptop perusahaan untuk menghilangkan jejak digital.
Digerebek FBI dan Didakwa
Sekitar tiga minggu setelah insiden, aparat federal menggerebek rumah mereka di Alexandria, Virginia. Dalam penggeledahan itu, petugas menyita berbagai perangkat elektronik serta tujuh senjata api.
Karena memiliki riwayat kriminal, Sohaib sebenarnya dilarang memiliki senjata api.
Keduanya ditangkap pada Desember 2025 dan menghadapi berbagai dakwaan, mulai dari konspirasi penipuan komputer, perdagangan password ilegal, hingga kepemilikan senjata api terlarang.
Belakangan, Opexus mengakui bahwa perusahaan sebenarnya mengetahui rekam jejak kriminal keduanya saat proses perekrutan, namun gagal menerapkan pemeriksaan keamanan tambahan dan prosedur pemecatan yang semestinya.







