Penjarahan Guncang Demo Nepal: Bank Dirampok, Toko Digasak

Para peserta demo Nepal berorasi di depan Gedung Parlemen di Kathmandu, Senin (8/9/2025). Demo ini menewaskan sedikitnya 19 orang. Kasus korupsi hingga larangan media sosial jadi landasan massa turun ke jalan.(AFP/PRABIN RANABHAT)
Para peserta demo Nepal berorasi di depan Gedung Parlemen di Kathmandu, Senin (8/9/2025). Demo ini menewaskan sedikitnya 19 orang. Kasus korupsi hingga larangan media sosial jadi landasan massa turun ke jalan.(AFP/PRABIN RANABHAT)

SURYAKEPRI.CO.ID – Gelombang unjuk rasa besar-besaran di Nepal yang dipelopori generasi muda (Gen-Z) tak hanya berujung pada lengsernya Perdana Menteri KP Sharma Oli pada Selasa (9/9/2025), tetapi juga memicu penjarahan massal.

Sejumlah toko, bank, hingga hotel dilaporkan menjadi sasaran kelompok yang memanfaatkan situasi kacau untuk melakukan aksi kriminal. Salah satu insiden penjarahan dilaporkan terjadi di salah satu cabang Bank Rastriya Banijya di kawasan bisnis New Baneshwor.

Meski demikian, kata seorang pegawai bank, para pelaku penjarahan tidak tampak terkait dengan gerakan demonstrasi Gen-Z, melainkan kelompok lain yang menggunakan kerusuhan sebagai kedok. “Orang-orang yang terlibat dalam penjarahan itu bukan bagian dari gerakan pemuda, mereka hanya memanfaatkan kerusuhan,” ujar salah satu karyawan bank, dikutip dari Khabarhub.

Selain bank, penjarahan juga menyasar Supermarket Bhatbhateni di Bhaktapur, Hotel Hyatt, serta kawasan Bouddha.

Barang-barang elektronik, makanan, minuman, hingga perabotan disebut ikut diangkut massa.

Beberapa video di media sosial menunjukkan kelompok orang masuk ke dalam supermarket membawa keluar barang belanjaan tanpa ada yang menghentikan. Seorang warga di Bhaktapur menyebut situasi berlangsung mencekam.

“Awalnya hanya ada teriakan demonstran, tapi kemudian saya melihat orang-orang berlari membawa keluar barang dari toko. Tidak ada polisi di sana saat itu,” katanya.

Tersangka penjarahan ditangkap

Tentara Nepal mengonfirmasi telah menangkap 26 orang yang dituduh terlibat dalam penjarahan dan vandalisme di Kathmandu serta Bhaktapur. Dari jumlah itu, lima orang ditangkap terkait perampokan di Bank Rastriya Banijya.

Dalam pernyataan resmi, Tentara Nepal menegaskan bahwa kelompok kriminal telah “membajak gerakan damai” dengan melakukan penjarahan, pembakaran, dan aksi anarkis lain.

Pasukan militer kini berjaga di lokasi-lokasi rawan dan melakukan patroli malam untuk mencegah kejadian serupa.

Kekhawatiran warga

Peserta demo Nepal menggotong pengunjuk rasa yang terluka dalam demonstrasi di luar Gedung Parlemen di Kathmandu, Senin (8/9/2025).

Demo di Nepal yang menolak larangan media sosial berujung bentrok dengan aparat.

Polisi tembak massa di depan parlemen Nepal, 19 orang tewas, 145 luka. Demo di Nepal yang menolak larangan media sosial berujung bentrok dengan aparat.

Insiden penjarahan ini menambah ketegangan di tengah protes yang sudah menewaskan lebih dari 20 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya.

Masyarakat setempat khawatir aksi kriminal akan semakin memperburuk situasi yang sudah tidak stabil.

“Jika perbuatan melawan hukum seperti ini dibiarkan, keadaan bisa makin tak terkendali,” kata seorang warga Kathmandu yang menyaksikan kejadian di kawasan Baneshwor.

Para pengamat menilai aksi penjarahan bisa memicu krisis kepercayaan publik terhadap gerakan protes itu sendiri.

Sebab, di mata sebagian warga, aksi tersebut bergeser dari perjuangan politik menjadi kesempatan bagi kelompok kriminal mencari keuntungan.

Aksi Demo Gen-Z

Aksi protes di Nepal bermula dari larangan pemerintah terhadap sejumlah aplikasi pesan dan media sosial pada awal September.

Larangan itu memicu amarah mahasiswa dan aktivis muda, yang kemudian meluas menjadi gerakan anti-pemerintah. Kemarahan massa memuncak setelah bentrokan dengan polisi menewaskan puluhan orang.

Gedung parlemen, Mahkamah Agung, serta kantor pemerintahan di kompleks Singha Durbar dibakar.

Rumah-rumah politisi pun jadi sasaran amuk, termasuk rumah mantan Perdana Menteri Jhalanath Khanal, yang berujung pada tewasnya istrinya, Rajyalaxmi Chitrakar, akibat terjebak dalam kebakaran.

Meski pemimpin organisasi nirlaba Hami Nepal, Sudan Gurung, berkali-kali menyerukan agar demonstran tidak menyerang fasilitas publik, aksi anarkis tetap meluas.

Dunia serukan perdamaian Gelombang kekerasan di Nepal menuai keprihatinan internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar semua pihak menahan diri dan membuka dialog untuk mencari jalan keluar damai.

Perdana Menteri India Narendra Modi juga menyampaikan pesan serupa.

“Kekerasan di Nepal sangat memilukan. Saya berduka karena begitu banyak anak muda kehilangan nyawa,” ujarnya di media sosial X.

“Stabilitas, perdamaian, dan kesejahteraan Nepal sangat penting bagi kami,” tandasnya.

Sumber: kompas.com

Exit mobile version